Pesan dari dapur :

Maaf, Web Blog ini Hanya Contoh Web Portal Saja... untuk Preview Peminat Web Desain dari JhonyROW... Kami Menerima Jasa Pembuatan Website, Game, Advertising, Aplikasi berbasis Android maupun Windows, Film, Video Klip, Animasi dan Jurnalistik.

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jangan Berhenti Berdoa

Written By Juragan Briket on Senin, 01 September 2014 | 15.01













Kisah nyata, terjadi di Pakistan. Seorang Dr Ahli Bedah terkenal (Dr. Ishan)
tergesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan menghadiri Seminar Dunia dalam bidang
kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran.
Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami
gangguan dan harus mendarat di airport terdekat.


Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata: Saya ini dokter special, tiap menit nyawa manusia bergantung ke saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam? Pegawai menjawab: Wahai dokter, jika anda terburu-buru anda bisa menyewa mobil, tujuanmanda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil 3 jam tiba.

Dr. Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.

Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar mereka tersesat dan terasa kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya. 

Terdengar suara seorang wanita tua: Silahkan masuk, siapa ya?

Terbukalah pintunya. Dia masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam telponnya. 
Ibu itu tersenyum dan berkata: "Telpon apa Nak? Apa anda tidak sadar ada dimana? Disini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan utk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan anda."

Dr. Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu memakan hidangan. Sementara
ibu itu sholat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang
terbaring tak bergerak diatas kasur disisi ibu tersebut, dan dia terlihat gelisah diantara tiap
sholat. Ibu tersebut melanjutkan sholatnya dengan do'a yang panjang.

Dokter mendatanginya dan berkata: Demi Allah, anda telah membuat saya kagum dengan keramahan anda dan kemuliaan akhlak anda, semoga Allah menjawab do'a-do'a anda.

Berkata ibu itu: Nak, anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan do'a-do'a saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu. Bertanya Dr. Ishan: Apa itu do'anya? Ibu itu berkata: Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada disini. Mereka berkata kepada saya ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya; katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo'a kepada Allah agar memudahkannya.

Menangislah Dr. Ishan dan berkata sambil terisak: Allahu Akbar, Laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh do'a ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, Hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Saya lah Dr. Ishan Bu, sungguh Allah swt telah menciptakan sebab seperti ini kepada hambaNya yang mu-min dengan do'a. Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mengobati anak ini.

Kesimpulan: Jangan pernah berhenti berdo'a sampai Allah menjawabnya.

Kianna, 38 Tahun Akhirnya Lulus SMA (Semangat Pantang Putus Asa)

Written By Juragan Briket on Sabtu, 05 Juli 2014 | 11.10

 Jakarta Setelah dinyatakan tidak lulus ujian matematika dua puluh tahun yang lalu, Kianna Hawkins (38) akhirnya lulus sekolah menengah atas pada Minggu (8/6).

Menurutnya, ia menghabiskan dua puluh tahun untuk bekerja dengan upah rendah dan membantu kehidupan keluarganya hingga ia sadar harus meneruskan sekolahnya.

"Saya malu karenanya. Gaji saya tidak pernah lebih dari 13 dollar Amerika atau sekitar Rp 150 ribu per jam. Saya tahu, saya punya pengalaman dan kemampuan. Saat itu saya berpikir untuk melawan musuh waktu remaja yaitu uijian matematika," kata wanita asal Dallas, Amerika Serikat tersebut.

Dan ibu satu anak ini pun akhirnya minta putrinya yang berusia 14 tahun, Emiyah McCray, menjadi guru privat. Keduanya mulai belajar dengan keras dan menempuh ujian pada April lalu.

"Terima Kasih Tuhan, anak saya ikut menangis. Kami mendapat tiket kelulusan," ujar Kianna, seperti ditulis Nydailynews, Senin (9/6/2014).

Kianna berharap semua anak di dunia tidak  pernah menyerah apalagi tinggal sekolah karena matematika. "Berjuanglah, Apa pun yang Anda lakukan jangan menyerah."
(Gabriel Abdi Susanto) Liputan6.com,

Perjuangan Nenek Yibin Gendong Cucu Lumpuh ke Sekolah Setiap Hari

Written By Juragan Briket on Jumat, 27 Juni 2014 | 03.20

Beijing - Rasa cinta nenek Yibin kepada sang cucu begitu besar. Ia rela menggendong Mei Qiu (14) ke sekolah setiap hari, meski usianya tak lagi muda. Si bocah memiliki kelainan pada bagian lutut dan tak bisa berjalan.

Tiap pagi, nenek Yibin jalan berbukit yang jaraknya sekitar 4 kilometer. Meski berat memanggul sang cucu,  Nenek Yibin tetap terlihat semangat. Karena hanya itu yang bisa dilakukannya.

Dilansir dari Oddity Central, Senin (31/3/2014), nenek berusia 66 tahun itu bangun pukul 05.00 pagi setiap hari, dan mempersiapkan segala keperluan Mei.
Pukul 07.00 pagi, Nenek Yibi dan Mei memulai perjalanan mereka ke sekolah. Mei bersandar di punggung sang nenek yang usianya sudah separuh abad itu. Sesekali, Nenek Yibin pun berhenti untuk beristirahat. Setidaknya lima kali selama perjalanan.

Dari rumah menuju sekolah, mereka membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam berjalan kaki. Dan mereka tidak pernah terlambat --Nenek Yibin memastikan mereka bisa mencapai sekolah pukul 08.30 setiap hari.

Mereka telah melakukan ini selama 5 tahun, menempuh jarak total lebih dari 4.000 kilometer sejauh ini.

Tugas Nenek Yibin setiap hari benar-benar sulit, bahkan untuk seseorang yang jauh lebih muda dan lebih kuat.

Namun nenek 66 tahun itu mengaku tidak tahu harus bagaimana lagi. Nenek Yibin khawatir memikirkan bagaimana kehidupan Mei ketika ia dan suaminya meninggal nanti.

Seperti mimpi buruk Yibin yang begitu menakutkan. Dalam mimpi itu, Mei tergelincir di genangan air dan dia mencoba untuk menjangkau membantunya berjuang, tapi tangan mereka tidak pernah bertemu.

Tentu saja sebagai cucu, Mei tak tega melihat sang nenek menggendongnya. Tapi ia tak punya pilihan lain. Dia sudah mencoba untuk menopang berat tubuhnya pada dua batang bambu buatan tangan, dan mencoba untuk berjalan. Tapi dengan cara itu ia tak sanggup ke sekolah sendiri.

Untuk menunjukkan baktinya pada sang nenek, Mei belajar sangat keras. Ia tak mau upaya perempuan sepuh itu sia-sia.
Mei bercita-cita suatu hari ia bisa membangun sebuah rumah yang indah. Untuk diberikan ke neneknya sebagai ucapan 'terima kasih' karena telah membantunya sampai ke sekolah.

Bantuan
Untungnya, cerita pahit Nenek Yibin memiliki akhir yang bahagia. Setelah kisah hidupnya dengan Mei terkespos dunia, pemerintah setempat memutuskan untuk membantu.
Keluarga kecil itu kini telah pindah ke rumah yang lebih dekat dengan sekolah, dan Fang Mei telah diberikan kursi roda yang memungkinkannya bergerak secara mandiri.
Pihak berwenang juga telah memanggil institusi medis lokal, untuk melihat apakah kondisi gadis muda itu bisa diobati.

Fang Mei lahir dengan tempurung lutut tak normal. Yang membuatnya tak mampu menopang bobot tubuhnya. Jadi, dia tidak bisa berdiri selama lebih dari beberapa menit tanpa sakit luar biasa, apalagi berjalan ke sekolah.

Malang, ayahnya meninggalkan ketika dia masih bayi dan ibunya menikah lagi. Mei pun di rawat oleh kakek-neneknya. Keduanya merawat Mei dengan penuh kasih sayang.

Sang kakek terlalu tua dan sakit-sakitan untuk mengurus Mei. Sehingga Nenek Yibin lah yang berperan banyak dalam keluarga kecil itu. Berkat kasih sayang mereka, kini kehidupan Mei pun lebih baik.(jhon)

Video Aksi Hebat Petenis Meja Tanpa Kedua Tangan

Kairo - Tak ada yang mustahil dilakukan jika memang ada niat dan usaha keras. Itulah yang menjadi pedoman bagi pemain tenis meja yang satu ini.

Petenis meja Mesir bernama Ibrahim Hamato ini begitu percaya diri melawan pemain lainnya. Meski tubuhnya tak sempurna., ia tak memiliki  tangan, tapi mampu 'melumpuhkan' semua pemain amatir yang berhadapan dengannya.

Seperti dikutip Liputan6.com dari Oddity Central, Jumat (16/5/2014), Ibrahim mampu bermain sempurna meski hanya menggunakan mulut untuk memegang raketnya.

"Aku mengalami kecelakaan ketika berusia 10 tahun, tapi aku mencintai tenis meja," kata Ibrahim.

"Tiga tahun setelah kecelakaan, aku ingin bermain lagi dan memegang raket di bawah lenganku, tetapi tidak berhasil. Setelah mencoba pilihan yang berbeda, aku mengetahui bahwa bisa bermain dengan baik dengan mulut," urainya. Saking mahirnya bermain tenis meja dengan mulut, Ibrahim pun diundang pada sebuah ajang olahraga bergengsi.
Ibrahim yang datang sebagai atlet inspirasional ini diundang untuk menjadi tamu kehormatan pada ajang World Team Table Tennis Championships yang diadakan di Tokyo tahun ini.
Sebuah klip berdurasi pendek pun beredar di dunia maya. Memperlihatkan betapa para pemain terbaik di dunia berjuang keras untuk mengimbangi permainan Ibrahim yang mengagumkan.
"Saya merasa sangat senang mendapat undangan ini, dari Tuan Sharara," ucap Ibrahim.
"Ini adalah penghargaan besar bagiku, untuk menonton pemain terbaik di dunia di Tokyo. Dan saya berharap hal ini dapat menunjukkan kepada orang-orang bahwa tidak ada yang mustahil selama Anda bekerja keras," bebernya.
Inilah bagian yang paling manis: "Prestasi terbaikku dalam hidup ini dibagi menjadi dua bagian. Hal terbaik dalam hidupku adalah istriku yang segalanya bagiku. Bagian kedua, adalah tenis meja. Di mana aku menemukan kesuksesan terbesarku, mampu menikmati setiap titik saat menang," ungkap Ibrahim. (Ali)
(Tanti Yulianingsih )

John Fredriksen, Miliarder Dunia yang Pernah Jadi Bocah Kurir

Oslo - Tak peduli apapun profesinya saat masih muda, setiap orang memiliki potensi untuk menjadi kaya raya. Sebut saja, salah satu miliarder terkaya di dunia John Fredriksen yang mengawali karirnya sebagai seorang kurir.
Seperti dikutip dari Trade Wind News, Jumat (9/5/2014), Fredriksen telah mengalami perjalanan karir yang sangat panjang sebelum akhirnya menjadi bos perusahaan kapal besar di dunia. Bagaimana tidak, pada usia 16 tahum, dia hanyalah seorang bocah pembawa pesan di Oslo.
Di usianya saat itu, Fredriksen sama sekali belum pernah mengenyam pendidikan formal. Namun berkat kegigihannya selama 53 tahun di industri perkapalan, Fredriksen berhasil menjelma menjadi pengusaha besar dengan keuntungan hingga triliunan rupiah.
Bisnisnya bukan tanpa hambatan, Marine Management dan Seateam miliknya pernah terbelit masalah hukum pada 1986. Saat itu dia diduga terlibat kasus pencurian minyak mentah di mana kapalnya digunakan sebagai tempat penyimpanan.
Kala itu, dia harus mendekam selama lebih dari empat bulan di dalam penjara. Tapi itu semua tidak menghentikan langkahnya untuk menjadi orang sukses.
Dia bahkan mengatakan, seluruh masalah yang pernah menerpa membantunya bisa sesukses sekarang. Kemampuan di industri perkapalan justru terbukti semakin terasah.
Pada 2009 saja, bisnis tanker-nya berhasil mencetak pendapatan hingga US$ 51,7 miliar. Itu semua diperolah dari dua perusahaannya di bidang perminyakan, Seadrill and North Atlantic Drilling Ltd.
Saat ini, Fredriksen tengah mengendalikan 14 perusahaan besar. Meski demikian, dia tak perlu khawatir karena anak-anaknya ikut mengelola bisnis besarnya tersebut. (Sis/Nrm)
(Nurmayanti)

Bermodal Uang Jajan, Kini Suami Istri Ini Beromzet Rp 1 Miliar

Written By Juragan Briket on Kamis, 26 Juni 2014 | 23.43

KOMPAS.com - Banyak pengusaha meraih kesuksesan setelah melewati masa-masa sulit. Demikian pula yang dialami oleh Ade Andriansyah dan Windy Wulandry. Pasangan suami-istri ini merupakan pemilik distribution clothing Flashy Shop yang berdiri sejak akhir 1990-an di Bandung, Jawa Barat.

Krisis ekonomi tahun 1998 yang meletus ketika Windy masih kuliah di Universitas Parahyangan, Bandung, mengarahkannya ke jalur pengusaha. Windy yang hobi belanja produk fashion terpaksa menahan diri karena harga semua produk tersebut melambung tinggi. “Tapi, namanya senang terhadap produk fashion, saya tak mungkin bisa berhenti belanja. Jadi, saya cari cara lain supaya bisa tetap pakai produk tanpa membeli dengan harga mahal,” ujar dia. Lantas pada 1997, Windy mulai membuat tas dari bahan bulu sintetis.

Awalnya, tas ini ia pakai sendiri. Namun, ternyata, banyak teman kuliah menyukai tas buatan Windy. Tak mau membuang peluang, dia menerima pesanan tas. Bahkan dia menambah produk berupa tas mini untuk menyimpan ponsel yang saat itu jadi tren di kalangan anak muda. Barulah pada 1998, ia memberi nama Flashy untuk produk buatannya.

Windy kian serius menjajaki bisnis tas dengan mendirikan toko pertama pada tahun 2000. Toko yang luasnya cuma 16 m2 itu berada di Jalan Ir. H. Juanda, Bandung. Lantaran tempat tersebut milik orang tua, ia pun terbebas dari ongkos sewa.

Namun, sebagai modal produksi, Windy merogoh kocek sebesar Rp 500.000. “Modal berasal dari uang jajan yang diberikan oleh orang tua,” kata perempuan kelahiran Bandung, 7 April 1977 ini. 

Produknya masih berupa tas dan mobile pouch dari bahan parasut, bulu sintetis, dan kulit imitasi. Pertama kali produksi, jumlah pesanan tidak sampai dua lusin. Ada lima orang karyawan. Sebagian membantu Windy, sebagian lain menjadi penjahit.

Agar semakin dikenal, Windy menjalin kerja sama dengan beberapa radio di Bandung. Caranya, ia menitipkan barang untuk barter promosi dengan menyediakan produk Flashy sebagai hadiah kuis radio. Namun, Windy mengakui, pemasaran dari mulut ke mulut yang paling efektif saat itu. Pasalnya, ia tidak punya dana khusus untuk promosi. “Dana yang kami punya lebih banyak digunakan untuk produksi,” ujarnya. 

Windy mengkhususkan Flashy untuk memproduksi barang fashion bagi kaum hawa. Menurut Windy waktu itu belum banyak distro yang bermain secara khusus. Produknya pun berkembang tidak hanya tas tapi juga dompet, baju, hingga aksesori perempuan.

Pangkas produksi

Pada masa awal Flashy berdiri, Windy tidak terlalu memikirkan masa depan bisnisnya dalam jangka panjang. Pasalnya, saat itu, belum banyak distro maupun butik di Bandung. Pesaingnya sangat sedikit. 

Dia pun fokus pada desain dan produksi. Urusan manajemen pun dikesampingkan. Bahkan Windy sempat bekerja di salah satu bank pada 2000 selama enam bulan.  

Perkembangan omzet yang tak diimbangi dengan tata kelola yang baik itu membuat Flashy justru merugi. “Selama masih ada duit yang saya pegang, itu yang saya gunakan untuk produksi, karena saya pikir omzet saya tinggi,” tuturnya. Maklum, Windy tak punya catatan tertulis di bidang finansial. 

Di sinilah peran Ade muncul dan membuat perubahan besar-besaran di bisnis Flashy. Sejoli ini menikah pada 2002. Ketika turun tangan, Ade baru menyadari betapa buruknya manajemen bisnis Flashy. “Waktu saya in charge, saya baru tahu tidak ada perhitungan yang jelas mengenai omzet maupun biaya produksi,” tambah dia. 

Sebelumnya Windy merasa mendapat omzet tinggi padahal kenyataannya itu tidak bisa menutupi biaya operasional yang juga tinggi. Mereka pun baru sadar kalau selama beberapa tahun Flashy tak untung. 

Karena itu, periode 2005 hingga 2007 jadi titik balik bagi Flashy. Selama tiga tahun itu, Ade berkonsentrasi memperbaiki manajemen. Ade mengibaratkan Flashy harus rela turun peringkat dari angka 7 menuju angka 3. Produksi sempat diturunkan hingga 50 persen. Bahkan, Ade memangkas jumlah karyawan, terutama bagian produksi, karena kurang efektif. Dari 20 orang penjahit, Ade hanya mempertahankan 10 orang. 

Ade bahkan mengunjungi toko-toko yang memasarkan produk Flashy secara konsinyasi. “Dari kunjungan itu saya baru tahu bahwa produk yang tidak laku tetap diproduksi dan dikirimkan ke toko-toko tersebut,” kata pria kelahiran Bandung, 4 Juli 1977 ini. 

Ade pun menghentikan kerjasama konsinyasi dengan beberapa toko. Jika sebelumnya Flashy memiliki sekitar 20 titik konsinyasi, Ade kurangi hingga hanya dua titik di Jakarta.

Baru pada 2008, Ade merasa sistem manajemen Flashy cukup baik meski masih terus ditingkatkan. Setidaknya, urusan finansial yang sebelumnya terbengkalai bisa ditangani olehnya. Sementara itu, Windy masih fokus mendesain produk Flashy dibantu oleh dua desainer. 

Mereka pun kembali berekspansi dengan membuka gerai-gerai baru. Setelah dua tokonya di Bandung, Flashy juga membuka gerai di Surabaya. Pada 2013, Flashy menambah gerai baru di Denpasar, Bali. 

Jadi, hingga sekarang, Flashy punya empat toko milik sendiri. Selain itu, Flashy juga punya space khusus di distro Yogyakarta dan Malang. Tak hanya pasar lokal, kini Flashy juga merambah pasar fashion Malaysia.  

Omzet Flashy pun kian membumbung. Rentangnya dalam sebulan sekitar Rp 500 juta–Rp 1 miliar saban bulan. Adapun produksi distro ini mencapai 7.000 pieces dalam sebulan. Sekitar 80 persenpemasukan berasal dari penjualan retail. Sisanya didapat dari penjualan secara konsinyasi, pembelian putus, dan online store.     

Flashy Shop baru saja merayakan hari jadi ke-16 pada 7 April lalu. Meski sudah belasan tahun malang melintang di bisnis distro, bukan berarti Ade Andriansyah dan Windy Wulandary, pemilik Flashy Shop, tak lagi menjumpai tantangan dalam berbisnis.

Tantangan yang kini dihadapi pasangan tersebut adalah menciptakan produk yang terus-menerus up to date dan digemari oleh konsumen. Lantaran target pasarnya kebanyakan anak muda, mereka juga harus pintar-pintar menciptakan produk dengan harga terjangkau dan kualitas terjaga.

Kompetisi yang kian ketat dengan clothing dan distro lain, juga terus mendorong Ade untuk melihat berbagai peluang. Rencananya Flashy akan membuka toko di negeri Jiran. “Distribusi produk kami sudah cukup luas, makanya kami berharap tahun depan bisa buka toko di Malaysia,” ucap Ade.

Selain itu, Ade juga merambah bisnis mesin border komputer sejak 2005. Lini bisnis ini cukup membantu Ade dan Windy dalam menentukan desain produk. Di masa mendatang, mereka berkeinginan menambah jumlah mesin tersebut. “Mesin ini juga dipakai distro lain,” tambah Ade.

Selain itu, Ade dan Windy pun bakal menambah toko offline tahun ini. Setiap tahun mereka menargetkan pembukaan dua gerai baru. Untuk tahun ini, ada tiga kota yang menjadi sasaran Flashy Shop, yakni Makassar, Lombok, dan Jakarta. Terakhir, untuk melengkapi produk Flashy, tahun ini juga mereka akan menambah produk baru yakni sepatu.

Bagi orang-orang yang ingin menggeluti bisnis serupa, Ade punya beberapa tip. Keyakinan dan totalitas dalam berbisnis jadi kunci utama. Dua faktor ini penting karena bisnis tidak selalu mulus.

Jadi, jika di tengah jalan timbul masalah, pelaku usaha tak lantas menyerah. Tak lupa ia menyarankan agar membuat sistem manajemen yang baik. “Manajemen tidak harus langsung sempurna tapi harus terus diperbaiki agar bisa menilai bisnis sudah sampai ke level mana,” ucap dia. (Marantina)


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: KONTAN

Miliarder Ini Traktir Ratusan Tunawisma di Restoran Elite


NEW YORK, — Miliarder Tiongkok Chen Guangbiao mengadakan acara tak biasa di New York, Rabu (25/6/2014) lalu. Ia mentraktir 200 tunawisma di restoran elite The Loeb Boathouse di Central Park. Chen juga membagikan lembaran uang pecahan 100 dollar AS kepada mereka.

"Saya berharap Anda menggunakan uang ini dengan baik. Saya harap uang ini digunakan untuk modal pelatihan kerja atau pelatihan apa pun sehingga bisa membantu diri Anda sendiri," kata Chen kepada seorang tunawisma seperti dikutip dari Business Insider, Jumat (27/6/2014).

Chen juga mengatakan kepada para tunawisma bahwa ia akan melakukan hal ini setiap tahun. Pernyataan Chen tersebut disambut tepuk tangan riuh para tunawisma.

Acara yang digelar Chen tersebut sempat mendapat sambutan negatif berupa unjuk rasa dari beberapa kalangan, termasuk massa anti-partai komunis Tiongkok. Meskipun demikian, Chen tetap "pede" dengan acara amalnya.

"Saya telah membantu jutaan orang dan ingin mendorong pers untuk mewawancarai orang yang benar-benar telah menerima bantuan dari saya hari ini, daripada mendengarkan orang-orang yang mungkin iri atau mengeluarkan komentar negatif tentang apa yang saya lakukan," ujar Chen.

Chen adalah salah satu dari 400 orang terkaya di Tiongkok dan dilaporkan memiliki kekayaan mencapai 740 juta dollar AS dan memiliki perilaku eksentrik. Menurut Reuters, Chen layaknya selebriti di Tiongkok.

Pada kartu namanya, Chen mendeskripsikan diri sebagai "Sosok Paling Berpengaruh di Tiongkok, Filantropis Terkemuka Tiongkok, Pemimpin Moral Tiongkok, Pahlawan Penyelamat Gempa Bumi Tiongkok, Idola Paling Terkenal dan Dicintai di Tiongkok, Filantropis Tiongkok yang Paling Karismatik" dan julukan-julukan lainnya. KOMPAS.com

 
Adventure : Berencana | Jalan-Jalan | Liputan
Copyright © 2011. Jhon Adventure - All Rights Reserved
Rebuilding Template by Kasirom JhonyRow
from johny Template, and Proudly powered by Blogger