Pesan dari dapur :

Maaf, Web Blog ini Hanya Contoh Web Portal Saja... untuk Preview Peminat Web Desain dari JhonyROW... Kami Menerima Jasa Pembuatan Website, Game, Advertising, Aplikasi berbasis Android maupun Windows, Film, Video Klip, Animasi dan Jurnalistik.

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Menikmati 7 Puncak Gunung dari Posong

Written By Juragan Briket on Senin, 01 September 2014 | 14.37

Panorama puncak Gunung Sumbing dilihat dari Posong. (JIBI/ Harian Jogja/ Sumadiyono)


















TEMANGGUNG—Berwisata ke Temanggung jangan lupakan Posong.  Objek wisata ini berada di wilayah Kecamatan Kledung, Temanggung, sebelum perbatasan Wonosobo dari arah Magelang dan Jogja.
Dari arah Temanggung, Jogja dan Magelang, Anda cukup mengikuti jalur utama dari Parakan menuju Wonosobo. Kira-kira tiga kilometer dari Parakan mulailah perlambat laju kendaraan Anda.

Sebelum sampai ke Kledung, sebuah papan nama Wisata Posong terpampang dengan jelas di sisi kiri jalan. Tinggal menyeberang, pintu masuk ke wisata Posong sudah di depan mata. Jika Anda bingung cukup bertanya kepada warga, pasti langsung ketemu arahnya.
Memasuki objek wisata ini, pengunjung harus sedikit  berjuang. Sebab mulai dari pintu masuk di jalan utama Kledung, pengunjung harus melalui jalan berbatu berkelok dan naik. Namun jangan khawatir, medan tidak terlalu berat  karena, batu sudah ditata dengan rapi sehingga tidak begitu sulit melaluinya. Untuk sampai ke Posong, jalan yang dilalui sejauh sekitar tiga kilometer. Di sisi kiri dan kanan jalan terpampang  hamparan panorama Gunung Sumbing dan Sindoro. Suasana pegunungan makin kental karena disepanjang sisi jalan merupakan  perkebunan tembakau dan berderet rapi pohon cemara.
Setelah mengarungi jalan berkelok dan berbatu, tibalah di  Posong. Di sini, pemandangan indah terhampar. Sejumlah gazebo untuk beristirahat makin menambah daya tarik. Di  tempat ini juga terdapat hamparan untuk melihat puncak  panorama di sekeliling Posong.
Dari sinilah, pengunjung bisa melihat tujuh puncak gunung  di Jateng asal cuaca cerah. Tujuh puncak itu di antaranya, Sindoro, Sumbing, Merbabu, Andong, Telomoyo, Merapi dan  Merbabu.
Dari sini pula, pengunjung bisa menikmati matahari terbit  (sunrise) dari Balik punggung Sumbing. Hanya saja, Anda harus berangkat malam sebelumnya. Anda tinggal menyewa tenda yang disediakan pengelola dengan tarif Rp400.000 permalam untuk kapasitas tenda empat orang. Plus bonus makan dan minuman penghangat. Untuk tarif masuk Posong, Anda cukup membayar parkir Rp5.000 plus tiket masuk Rp2.000 per orang. Selamat berwisata, jangan lupa membawa jaket…

Taman-taman Nasional Paling Cantik dan Terkenal di Amrik

Written By Juragan Briket on Sabtu, 05 Juli 2014 | 10.47

Washington DC- Di Amerika terdapat banyak taman nasional yang indah dan terkenal. Sebuah situs dan operator wisata terkenal di Amerika Serikat baru-baru ini melakukan survei secara online mengenai taman nasional yang paling banyak dikunjungi turis dan mengumumkan hasilnya.
Berikut adalah taman nasional yang paling sering dikunjungi dan dikenal oleh para turis dari seluruh dunia. Serta, hal apa saja yang membuat tempat tersebut layak dikunjungi.
(Elizabeth Swanti)

Menginap di Hotel Bernuansa Perancis Rasa Singapura

Written By Juragan Briket on Jumat, 27 Juni 2014 | 03.31

Jhon Adventure - Dengan memadukan budaya dan kuliner yang khas, seni dan arsitektur, Sofitel So Singapore telah mulai beroperasi di kawasan pusat bisnis Singapura. Sofitel So Singapore menawarkan pengalaman menginap di hotel mewah yang 'Sangat Singapura' (So Singapore) di gedung bersejarah yang dibangun pada tahun 1927 di Robinson Road.

Didisain oleh perancang asal Perancis di Singapura, MIAJA Design Group, oleh desainer terkemuka, Isabelle Miaja, Sofitel So Singapore memperkenalkan 134 kamarnya yang dirancang dengan mewah yang berlokasi di bagian So Hip dan bagian So Heritage.

Fitur-fitur yang menarik termasuk light-filled atrium untuk menyambut para tamu di lobi dengan karya seni unik dan instalasi lampu heksagonal yang menarik, yaitu L'Hexagone, sebuah 'bed-table' mewah di dalam restoran dan kolam renang rooftop dengan golden-tiled mewah yang menawarkan pemandangan perkotaan.

General Manager Tony Chisholm mengatakan, pihaknya telah mengembangkan sebuah konsep Singapura yang berbeda melalui Sofitel So Singapore yang baru untuk menyambut para tamu internasional dan lokal.

"Dengan didukung pengalaman hospitality terbaik dari Sofitel dan dipadukan dengan kemewahan berlabel 'So', kami optimis bahwa Sofitel So Singapore akan menjadi tolok ukur di industri hospitality untuk layanan, desain, gastronomi dan pengalaman budaya Singapura yang menakjubkan," kata Tony dalam siaran pers, Kamis (26/6/2014).

Michael Issenberg, Accor's Chairman and CEO Asia Pacific, mengatakan pembukaan Sofitel So Singapore merupakan salah satu yang paling dinanti-nantikan tahun ini. "Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi karena sebelumnya adalah gedung telekomunikasi yang menjadi lambang kota Singapura, Sofitel So Singapore, adalah perpaduan yang sempurna dari nuansa Perancis dengan pengaruh gaya Singapura yang elegan dan akan merubah peta industri hotel butik mewah di The Lion City ini," katanya.

"Sofitel So adalah brand hotel Accor yang fashionable, urban designer dan kami sangat senang membuka hotel yang merupakan koleksi terkini di Singapura," sambung Michael.

Kamar-kamar Sofitel So Singapura yang didesain oleh Isabelle Miaja berbeda dengan kamar hotel-hotel lainnya di Singapura. Dirancang dan terinspirasi dari abad kejayaan Perancis pada abad ke-19, setiap kamar Sofitel So Singapore memanjakan para tamu dengan langit-langit kamar yang tinggi dan lampu di dalam kubah-kubah kaca mewah dan terinspirasi oleh arsitektur tradisional Eropa dan konstruksi modern di Singapura. 


WWW.SOFITEL.COM HI-SO, rooftop bar yang eksklusif di Sofitel So Singapore.
Surga Kuliner

Xperience merupakan restoran dan bar di Sofitel So Singapore. Dengan konsep gastro-bar dining yang stylish dan menyenangkan, Xperience akan membawa para tamu pada pengalaman dan perjalanan kuliner yang interaktif. Musik modern dari para DJ tamu menambah suasana antusias dalam lingkungan restoran dan bar.

Rooftop bar yang eksklusif, HI-SO, memiliki pemandangan urban-skyline Singapura 360 derajat dan merupakan tempat yang eksklusif. Para tamu yang memasuki HI-SO akan memperoleh layanan mewah terbaik, dengan sajian cocktail unik dan menu yang memanjakan lidah.

Pada awal pembukaan, Sofitel So Singapore menawarkan program: Weekends@So. Dengan tarif 599 dollar Singapura ++ untuk dua orang, Weekends@So meliputi champagne brunch pada hari Sabtu, akomodasi di salah satu kamar hotel mewah dan sarapan pada hari Minggu dengan dua gelas champagne. Program ini berlaku hingga akhir tahun 2014. (*)/jhonyrow
Editor : I Made Asdhiana

Tips Menyeduh Teh yang Benar

- Tahukah Anda cara menyeduh teh yang benar? Berikut tips yang diberikan oleh salah satu penikmat teh sekaligus perwakilan dari Perusahaan Perkebunan Teh PT Pagilaran, Saiful Hafidz di Jakarta.

1. Seduh teh dengan air bersuhu tepat
Untuk teh hitam, biasanya diseduh dengan air bersuhu hingga 100 derajat celcius.

Teh Oolong biasanya diseduh dengan suhu sekitar 80 hingga 90 derajat celcius, sementara teh hijau harus kurang dari 90 derajat celcius.

"Sebaiknya jangan terlalu lama didihkan air untuk menyeduh teh karena oksigennya bisa berkurang. Jadi sekali mendidih langsung angkat saja," kata Saiful di "Nusantara International Tea Festival" yang berlangsung di Taman Fatahilah, Kota Tua, Jakarta Barat, Jumat (20/6/2014).

2. Bersihkan teh
Saiful mengatakan, biasanya sebelum dikemas, teh sudah mengalami penyimpanan sekitar satu hingga dua tahun.

"Oleh sebab itu, bersihkan dulu tehnya dengan air seduhan pertama. Begitu dituang air, lalu buang air tersebut. Setelah itu pada seduhan kedua atau ketiga, itulah teh yang paling nikmat karena teh sudah kembali kesegarannya, dan daun teh sudah membuka," kata Saiful.


ARSIP THE MEDIA HOTEL & TOWERS Minum teh
3. Tanpa gula
Untuk menikmati cita rasa dan aroma teh, disarankan menyajikan teh tanpa gula.

Meski demikian, semua tergantung selera penikmatnya. Saiful mengatakan  penambahan gula tidak akan menimbulkan reaksi kimia tertentu yang membahayakan kesehatan.

4. Perhatikan tempat
Dibanding logam, tempat penyeduhan teh yang paling baik adalah berbahan keramik karena tidak berbau dan rasa teh lebih nikmat.

5. Tuang air seduhan dengan gerakkan memutar agar merata lalu diamkan kurang lebih selama tiga menit sebelum dinikmati.

"Jika tidak merata maka teh akan rusak pada sisi yang terlalu banyak diseduh air," katanya.
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: Antara

Sawarna, Mutiara yang Terpendam di Banten

DESA Sawarna di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, bak mutiara terpendam. Di antara lahan telantar, teriknya matahari, dan infrastruktur yang tak memadai, di sanalah terletak Sawarna. Tempat banyak wisatawan meninggalkannya dengan rasa penasaran.

Demikian beragamnya pesona di Sawarna hingga banyak wisatawan pulang dengan perasaan belum puas karena tak punya cukup waktu. Pantai Pasir Putih, misalnya, menjadi andalan Sawarna untuk menarik wisatawan. Ombak laut selatan Jawa berdebur-debur kencang di pantai yang cantik.

Beberapa wisatawan memekik dan tertawa-tawa saat gelombang menampar tubuh mereka. Wisatawan lainnya asyik menimbun temannya dengan pasir. Sementara itu, di Goa Lalay, sejumlah wisatawan menyusuri lorong gelap beralaskan sungai kecil. Kadang-kadang terlihat kelelawar yang semakin ramai beterbangan saat sore.

Wisatawan bisa menyusuri goa hingga 400 meter, tentu lebih baik mengenakan celana pendek. Jika tak membawa perlengkapan, tak perlu khawatir. Tersedia penyewaan senter yang dipasang di kepala dan helm dengan tarif masing-masing Rp 5.000. Selain Goa Lalay, terdapat beberapa goa, seperti Langir dan Seribu Candi.

Saat matahari terbenam, wisatawan berduyun-duyun menuju Pantai Tanjung Layar. Batu-batu besar yang menjulang dengan tinggi hingga sekitar 20 meter menambah aksen pada senja yang indah. Di belakang batu-batu itu terdapat karang yang menyerupai benteng penahan gelombang.

Sebaliknya, ketika subuh, giliran Pantai Legon Pari menjadi tujuan mereka yang hendak melihat panorama matahari terbit. Para peselancar tak ketinggalan berbondong-bondong ke Pantai Ciantir. Tipikal ombak laut selatan Jawa yang tinggi bergulung-gulung tak hanya menggoda para peselancar lokal, tetapi juga peselancar mancanegara.

Selain tempat-tempat wisata, ada pula jembatan goyang yang bisa mengundang tawa. Jembatan itu bergoyang-goyang saat dilewati. Alhasil, jembatan itu menjadi wahana keusilan wisatawan menjahili rekannya. Ada tiga jembatan goyang di Sawarna yang masing-masingmenuju Pantai Pasir Putih, Tanjung Layar, dan Legon Pari.

Panjang setiap jembatan sekitar 50 meter. Dengan banyaknya tempat wisata, sulit untuk menggenapkan kunjungan dalam sehari. Sebagian wisatawan kembali ke Sawarna karena tak menduga begitu banyak tempat yang layak dikunjungi. Mereka biasanya hanya satu hari di Sawarna.

”Kalau mau puas, sebaiknya dua hari. Ya, idealnya tiga harilah,” tutur Wawan (30), tukang ojek sambil tersenyum.

Terintegrasi

Sawarna bisa dianggap desa wisata yang terintegrasi. Kelebihan Sawarna, selain kemolekan alam, warganya sudah menjadi masyarakat sadar wisata. Tak ada penjual asongan serabutan menjajakan dagangannya, tukang ojek tak memaksa wisatawan, dan petugas tiket menarik biaya sesuai dengan tarif.

Tukang ojek dengan ramah akan menawarkan jasanya mengantar dan menjelaskan mengenai tempat-tempat wisata yang disinggahi. Paket mengunjungi lima tempat wisata dengan ojek, misalnya, sebesar Rp 175.000 ke Goa Langir, Goa Lalay, Tanjung Layar, Legon Pari, Pantai Pasir Putih, dan Karang Taraje.

Wisatawan diantar melalui gang-gang desa bak labirin, melewati sawah, dan menikmati pemandangan Sungai Cipanas yang jernih. Jalan kaki pun tak dilarang, tetapi wisatawan harus memperhitungkan jarak yang cukup jauh dan sering bertanya. Sawarna berjarak sekitar 240 kilometer dari Jakarta.

Wisatawan diimbau membawa uang yang cukup karena anjungan tunai mandiri terdekat berada di ibu kota Kecamatan Bayah dengan jarak sekitar 15 km dari Sawarna. Pastikan juga tangki bahan bakar minyak kendaraan penuh karena tak ada stasiun pengisian bahan bakar untuk umum di sekitar Sawarna.

Ketua Paguyuban Homestay dan Pariwisata Sawarna Endan Hudri menjelaskan, kepopuleran Sawarna berawal ketika peselancar asing menemukan desa itu. ”Pada 1995, ada wisatawan asing naik perahu dari Palabuhanratu dan menemukan tempat berselancar di Sawarna,” tuturnya.

Ketika itu, jalan ke Sawarna memang masih sangat buruk. Meski demikian, sang peselancar datang juga demi pantai impiannya. Seiring dengan semakin santernya kabar tentang keindahan Sawarna, datang pula wisatawan-wisatawan lokal. Kunjungan lambat laun berganti. ”Kunjungan wisatawan ke Sawarna naik signifikan sejak dua tahun lalu,” ucapnya.

Saat ini, di Sawarna terdapat 60 penginapan. Setiap penginapan rata-rata memiliki lima kamar. Tarif kamar untuk bermalam umumnya berkisar Rp 200.000-Rp 500.000 per hari, bergantung pada luas kamar dan menggunakan penyejuk ruangan atau tidak. Sawarna menjadi buah bibir wisatawan karena promosi dari mulut ke mulut.

Johan Permana (27), pengelola Homestay Chlara mengatakan, saat Lebaran dan Tahun Baru, terjadi kemacetan parah di jalan Desa Sawarna yang sempit. (Dwi Bayu Radius)

Inilah Belut Raksasa dari Desa Waai

PERNAHKAH Anda melihat belut atau lindung? Bertubuh panjang sekitar 30 cm dilumuri cairan licin yang ada di tubuhnya dan hidup di lubang persawahan maupun sungai? Tetapi belut atau akrab disebut morea oleh masyarakat di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, tampak lain dengan biasanya. Belut dengan bahasa ilmiahnya Monopterus albrus di sini berukuran sangat besar, bisa dibilang monster. Panjangnya yang mencapai hampir 1,5 meter ini membuat kami terkejut melihatnya.

Sungai tempat hewan ini hidup, jika dilihat sekilas tak ada tanda-tanda keanehan di sini. Tetapi rasa penasaran kami pun memuncak setelah sang pawang mengajak kami menyeberangi sungai dengan arus cukup deras.


Belut raksasa atau morea di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Entah apa yang dilakukan oleh sang pawang. Sang pawang pun mengeluarkan telur dari dalam plastik. Tak sampai 1 menit, kami dikagetkan oleh segerombolan belut besar keluar dari bawah bebatuan yang ada di sungai tersebut.

Karena mencium bau amis dari dari telur itulah belut-belut berukuran besar naik ke permukaan dan menghampiri telur untuk memakannya. Sebelumnya kami tak berani memegang belut besar ini karena melihat dengan lahapnya menghabiskan ikan momar. Tetapi sang pawang pun berbicara kepada kami, "Morea baik, tidak menyerang manusia".

Akhirnya kami pun memberanikan diri untuk memegangnya, tetapi karena bobot belut yang berat dan licin itulah kami tidak bisa mengangkat hingga ke permukaan sungai. Dengan rasa senang, kami pun mencoba memberi makan belut-belut hingga celana yang kami pakai basah terendam air.

Belut raksasa atau morea di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Masyarakat di sekitar pun terus melestarikan keberadaan belut-belut besar ini sebagai wisata menarik di Negeri Larike. Menurut kepercayaan masyarakat di daerah ini jika memakan hewan ini dapat menimbulkan masalah besar dalam hidupnya dan akan terkena hukum adat pula. Sungguh mengerikan!

Sungguh sebuah pengalaman takkan terlupakan dapat melihat dan mengabadikan gambar belut besar yang akan mengalami kepunahan jika tidak dilestarikan dengan baik oleh masyarakat sekitar. (SENDY ADITYA SAPUTRA)

Candi Borobudur, Obyek Wisata Terpopuler di Indonesia

Written By Juragan Briket on Kamis, 26 Juni 2014 | 23.31

JAKARTA, - Candi Borobudur adalah ikon bangunan dengan posisi teratas di Indonesia, diikuti oleh Candi Prambanan dan Gunung Kawi Tampak Siring. Hal tersebut terungkap dari hasil pemenang penghargaan Travellers’ Choice untuk Obyek Wisata dari TripAdvisor, situs perjalanan.

Dalam penghargaan ini menyoroti ikon bangunan dan taman teratas di seluruh dunia. Di tahun keduanya ini, kategori tersebut memberikan penghargaan kepada 929 pemenang, termasuk 25 teratas di dunia dan daftar khusus untuk Asia, Australia, Kanada, Tiongkok, Eropa, India, Meksiko, Amerika Selatan, Pasifik Selatan, Inggris, dan Amerika.

“Wisatawan TripAdvisor membantu mengidentifikasi beberapa obyek wisata terbaik di dunia. Ikon bangunan dan taman pemenang penghargaan ini adalah titik awal yang ideal untuk mengumpulkan pemandangan yang harus dilihat di dunia," ungkap Chief Marketing Officer TripAdvisor, Barbara Messing, seperti termuat dalam siaran pers.

Sementara itu, ikon bangunan dari Bali mendominasi daftar obyek wisata teratas di Indonesia, yaitu 6 dari 10 ikon bangunan. Sementara Pulau Jawa mengklaim 3 ikon bangunan.

Sayangnya, baik dalam daftar 10 teratas obyek wisata untuk Dunia dan Asia, tidak ada ikon bangunan dari Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut. Penghargaan Travellers’ Choice memberikan penghargaan kepada obyek wisata teratas di dunia bedasarkan jutaan ulasan dan opini dari wisatawan TripAdvisor.

Pemenang penghargaan ditentukan menggunakan algoritma yang memperhitungkan kuantitas dan kualitas ulasan untuk ikon bangunan dan taman di dunia, yang dikumpulkan dalam periode 12 bulan. Berikut daftarnya.

10 Ikon Bangunan Teratas di Dunia:
1. Machu Picchu, Machu Picchu, Peru
2. Sheikh Zayed Grand Mosque, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab
3. Taj Mahal, Agra, India
4. Great Cathedral and Mosque, Cordoba, Spanyol
5. St. Peter’s Basilica, Vatican City, Italia
6. Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja
7. Bayon Temple, Siem Reap, Kambodja
8. Church of Our Savior on Spilled Blood, St. Petersburg, Rusia
9. Gettysburg National Military Park, Gettysburg, Pennsylvania, Amerika Serikat
10. Ancient City Walls, Dubrovnik, Kroasia

10 Ikon Bangunan Teratas di Asia:
1. Taj Mahal, Agra, India
2. Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja
3. Bayon Temple, Siem Reap, Kamboja
4. Shwedagon Pagoda, Yangon, Myanmar
5. Great Wall at Mutianyu, Beijing,Tiongkok
6. Golden Temple - Harmandir Sahib, Amritsar, India
7. Meherangarh Fort, Jodhpur, India
8. Temple of the Reclining Buddha (Wat Pho), Bangkok, Thailand
9. Amber Fort and Palace, Jaipur, India
10. Taktsang Monastery (Tiger’s Nest), Paro, Bhutan

10 Landmark Teratas di Indonesia:
1. Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
2. Candi Prambanan, Yogyakarta
3. Gunung Kawi, Tampaksiring, Bali
4. Tirta Gangga, Karangasem, Bali
5. Tirta Empul, Tampaksiring, Bali
6. Ulun Danu, Baturiti, Bali
7. Tjong A Fie's Mansion, Medan, Sumatra
8. Candi Plaosan, Yogyakarta, Jawa
9. Taman Ujung Soekasada, Karangasem, Bali
10. Pura Taman Saraswati, Ubud, Bali



Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana

"Pelite" Kesayangan Bung Karno di Muntok

MUNTOK bukan kota kecil biasa. Kota di sisi paling barat Pulau Bangka ini punya sejarah panjang yang pernah mengantar namanya dikenal di seantero mancanegara. Perjalanan ke Muntok adalah menapak tilas kemegahan masa lalu.

Muntok bisa dicapai dalam tiga jam perjalanan darat dari Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Perjalanan menempuh jarak sekitar 135 kilometer antara Pangkal Pinang dan Muntok itu menyuguhkan pemandangan khas Pulau Bangka. Jalan mulus selebar 6 meter, sesekali berkelok, tak banyak menanjak. Di tepi jalan, berjajar kebun kelapa sawit, karet, dan lada, diselingi hutan atau padang bersemak bekas tebangan pepohonan.

Pemandangan kebun itu kerap berganti deretan rumah—sebagian besar tembok—berhalaman luas. Keunikan Bangka adalah ”kolong”, semacam danau bekas galian timah, yang masih terlihat di tepi jalan menuju Muntok. Di kolong yang tak berair jernih itu, ada orang mandi juga mencuci pakaian atau sepeda motor.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Salah satu sudut Muntok.
Matahari masih bersinar terik ketika kami tiba di Muntok. Pusat keramaian di area Pasar Lama bisa jadi tujuan pertama. Di situ, pasar, masjid, dan kelenteng berdampingan dalam harmoni. Ketua Komunitas Kota Pusaka Muntok Chairul Amri Rani mencatat, Masjid Jami’ dibangun pada 1770 dan direnovasi pada 1883. Sementara Kelenteng Kong Fuk Miau di sebelahnya pun sudah berumur lebih dari 200 tahun.

Dua bangunan tua yang berdampingan itu membuktikan sejarah panjang akulturasi pribumi Melayu, etnis Tiongkok, dan Arab yang sejak mula melatari terbentuknya Kota Muntok. Sejarah Muntok diawali ketika Ratoe Mahmoed Badaroeddin, putra Sultan Palembang, berlindung di Johor karena terlibat sengketa takhta Kesultanan Palembang pada 1714.

Riwajat Poelau Bangka Berhoeboeng dengen Palembang karya Raden Achmad dan Abang Abdul Djalal pada 1925 dan 1939 menyebutkan Mahmoed Badaroeddin menikahi Zamnah, putri bangsawan Melayu-Tiongkok bernama Entji’ Wan Abdul Djabar dari Pulau Siantan. Ketika Mahmoed Badaroeddin menguasai takhta Kesultanan Palembang pada 1724, Zamnah pun jadi permaisuri. Sultan kemudian membangun negeri baru di Muntok, Pulau Bangka, dan menempatkan keluarga besar istrinya dari Siantan di kota baru itu.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Gedung kantor pusat PT Timah di Muntok, Bangka Barat, Bangka Belitung, yang sekarang dijadikan Museum Timah.
Muntok berikutnya berkembang pesat sebagai kota pelabuhan. Dua komoditas penting, yakni timah dan lada, diperdagangkan dari pelabuhan Muntok hingga ke mancanegara. Muntok juga menjadi ibu kota Karesidenan Bangka-Belitung hingga 1913 ketika ibu kota kemudian dipindahkan ke Pangkal Pinang.

Foto udara

Sejak November 2013, kota ini memiliki etalase yang bisa membawa pengunjung di kota itu sejenak kembali pada kemegahan masa lalu Muntok. Etalase itu adalah Museum Timah Muntok. Bangunan yang disulap menjadi museum ini semula merupakan kantor Banka Tin Winning (BTW), perusahaan tambang timah milik pemerintah kolonial Belanda. Bukan sebatas eksotika arsitekturnya saja yang menawan. Menyusuri satu ruang pamer ke ruang pamer lain di penjuru gedung ini juga memberi pengalaman menarik.

Foto-foto udara jepretan tahun 1931, misalnya, terpampang di museum ini, menunjukkan gedung yang dibangun pada 1915 ini di masa lalu adalah bagian dari kluster Eropa nan megah di Kota Muntok. Sumber lain, The Hybrid Architecture of Colonial Tin Mining Town of Muntok karya Kemas Ridwan Kurniawan (Penerbit Universitas Indonesia, 2013) berdasarkan foto udara koleksi KITLV, Leiden, juga menggambarkan kluster ini begitu indah. Gedung BTW, gedung residen, dan Societeit Concordia dalam kluster itu berpagar Taman Wilhelmina dan Taman Juliana.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Suvenir berbahan timah yang dijual di galeri kerajinan tangan di Muntok.
Kini, gedung residen itu menjadi rumah dinas Bupati Bangka Barat. Taman-taman yang memagari kluster itu pun masih bisa ditemukan tapak jejaknya di Kota Muntok hari ini meski tak lagi seindah dulu.

Museum ini juga menunjukkan betapa timah membuat nama Muntok dan Bangka mendunia sekaligus menjadikan pulau ini incaran imperialis Barat. Thomas Stamford Raffles (Inggris) sempat bersikukuh tak akan melepas Bangka ke tangan Belanda pasca Traktat London pada 1814. Pasca kemerdekaan RI, timah tetap menjadi tulang punggung pembangunan di Bangka.

Kini, masyarakat di Pulau Bangka, termasuk Muntok, tak bisa lagi menyandarkan penghidupan dari pertambangan timah. Meski begitu, gerai-gerai kerajinan timah yang mengolah biji timah jadi beragam cendera mata apik patut disinggahi.

Seribu kue

Bagian lain dari Museum Timah Muntok yang merebut perhatian adalah segmen yang memaparkan sejarah pengasingan Presiden RI Soekarno bersama Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, dan Mohammad Roem di Muntok pada 1949. Perjuangan para pemimpin bangsa ini tak mandek selama mereka terkekang dalam pengasingan. Soekarno bukan sekadar membahas urusan politik bersama sesama pemimpin, ia pun bergaul di tengah masyarakat Muntok. Ekspresi hangat sang Presiden di tengah keriuhan rakyat itu terekam baik di museum ini.

”Zaman pengasingan di Muntok itu, kue kegemaran Bung Karno adalah pelite. Ibu saya termasuk yang kerap memasakkan kue itu buat Bung Karno,” tutur Chairul Amri Rani. Kue pelite ini diolah dari sagu bersantan berwadah ”mangkuk” daun pisang.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Aneka kue yang dijajakan pedagang di Muntok. Muntok juga terkenal dengan sebutan ”kota seribu kue”.
Muntok memang kerap disebut ”kota seribu kue”. Tak akan afdal berkunjung ke Muntok tanpa menikmati jajanan kue-kuenya. Di seberang Masjid Jami’ dan Kelenteng Kong Fuk Miau, sebuah gerai kue khas Muntok yang dipadati aneka jajanan sungguh mengundang selera.

Selain pelite, ada juga iyet-iyet, berbahan tepung ketan, gula merah, dan kelapa; tompe ambor, semacam kue dadar sagu; hingga kue brut yang dimasak dengan tepung beras. Menyeruput secangkir kopi hitam ditemani cita rasa manis dan gurih dari kue-kue itu menjadi cara paling pas untuk melewatkan sore di Muntok sebelum senja turun dan kemeriahan kota ini berangsur hilang dalam sepi. (Nur Hidayati & Aryo Wisanggeni)
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK

 
Adventure : Berencana | Jalan-Jalan | Liputan
Copyright © 2011. Jhon Adventure - All Rights Reserved
Rebuilding Template by Kasirom JhonyRow
from johny Template, and Proudly powered by Blogger